Menajamkan Mata Pena Bukan untuk Melukai

oleh : Farhan

“Menajamkan Mata Pena Bukan untuk Melukai”

Pena disini merupakan sebuah simbol yang memanifestasikan sebuah pewujudan seorang manusia ilmu, manusia intelektual, pelajar, aktivis dan segala perwujudan manusia yang ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Meskipun dalam penafsiran harfiahnya pena tak lebih dari sekedar alat tulis, atau perwujudan dari aktivitas tulis-menulis dan literasi.

Mata pena merupakan salah satu bagian penting dari anatomi tubuh pena. Bersama tinta pena, dan badan pena, ketiga bagian tersebut saling berkorelasi sebagai sebuah satuan sistem yang memiliki tujuan mengaktualisasikan unsur-unsur yang terkandung dan di proses didalamnya sehingga lahirlah bergam bentuk goresan.

Mata pena adalah ujung tombak dari setiap goresan pena, mata pena adalah penghubung antara tinta dan sebuah kertas putih, mata pena adalah media penyalur antara inisiasi ilmu dan aplikasi tindakan nyata. Jika di permisalkan mata pena adalah senjata utama atau ujung tombak dari seorang pena, maka mata pena bisa berarti ilmu, tindakan, visi, idealisme, dan hal-hal yang ada kaitannya tentang kapasitas diri. Lantas, apa makna dari ‘Menajamkan mata pena’?.

Menajamkan mata pena berarti mempertajam keilmuan, meningkatkan kualitas diri dan meperkuat tindakan. Mengapa perlu mempertajam mata pena?. Karena, mata pena yang tumpul takkan mampu menggoreskan coretan yang berkualitas. Mata pena yang tumpul menghasilkan goresan yang kurang terfokus, sulit di bentuk dan produk aktualisasi yang kurang bermutu. Oleh karena itu seyogyanya kita sebagai seorang pena, di tuntut untuk terus menajamkan mata pena yang kita punya.

Sebagai seorang pena sejati, dalam sanubarinya pasti akan terekam keinginan untuk mengembangkan kapasitas diri, menambah khazanah keilmuan, memperkuat daya pikir kritis, selayaknya seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan dan memiliki kemauan kuat terhadap apa yang ia idealkan. Idealisme tersebut merupakan dambaan bagi kita semua untuk para pemuda, pelajar, maupun mahasiswa.

Melihat di era milenial saat ini yang notabene sudah mulai tergerus arus deras globalisasi. Sebagian mereka memilih tidak menyibukkan dirinya dengan hl-hal yang kurang penting bagi mereka, dan hal-hal yang menyusahkan. Akibatnya mereka melarikan diri menuju hidup yang penuh dengan kesenangan dengan memanfaatkan berbagaimacam bentuk fitur modern yang di suguhkan kepada mereka.

Menjadi seorang pena yang cakap, dengan tinta yang berkualitas, dan mata pena yang telah di pertajam seharusnya mampu menggoreskan sebuah produk yang positif dan esensial sesuai dengan fungsi sejati seorang pena. Jangan semerta-merta ketajaman mata pena yang telah susah payah diasah di pergunakan semata-mata untuk menusuk kulit, menggores dan melukai hati orang lain. Hal tersebut diibaratkan sebagai pena-pena sombong yang hanya membuat coretan yang merugikan sekitar dan tidak merefleksikan peran pena sebagai pelukis solusi serta penulis kebenaran.

Seperti pendapat sokrates bahwa, semakin banyaknya ilmu yang dimiliki harus korelatif dengan semakin baiknya amal dan budi. Kenapa begitu? Bukankah banyak orang yang memiliki ketinggian ilmu namun tidak mencerminkan akhlak ataupun prilaku yang bagus?. Menurut sokrates orang tersebut bukanlah orang yang berilmu, karena jika orang berilmu tetap mencerminkan prilaku yang kurang bagus maka ia sedang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ilmunya, dan itu akan mengahsilkan hidup yang gelisah, hidup yang galau dan hanya orang bodoh yang memilih hidup seperti itu.
Di dalam Al-Qur’an surah Al-Imran ayat 159 yang artinya:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Di dalam ayat tersebut, menjelaskan secara gamblang kepada kita bahwa dengan hati yang lembut dan perkataan yang halus sejatinya merupakan sebuah kunci dari solusi berbagaimacam masalah yang akan kita hadapi. Begitupun sebaliknya, dengan etika yang kurang baik menyebabkan masalah yang di hadapi menjadi lebih keruh. ( “…..tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…..”

Biro Perjalanan Umroh PT. Relasi Laksana Wisata

Alamat Kantor Cabang Jember
Jalan Doho (Doho Cluster 88 Kav. 02)
Jember - Jawa Timur 68122 / peta alamat


Phone 0813-3413-8101
Email info@umrohmu.net

Copyright © 2018 – UmrohMU team
Media Travel Umroh & Haji Plus
Sitemap | Agen Travel Umroh | RSS